Skip to content

Masjid Raya Cinere, Depok

December 8, 2010

Rindangnya pepohonan memberikan kesejukan tersendiri bagi bangunan masjid yang ada di kawasan perumahan yang terletak di selatan Jakarta ini. Terlebih, bentuk bangunan dua lantai ini memiliki bukaan hampir pada seluruh sisinya. Hal ini kami rasakan sendiri ketika menyambanginya untuk sholat dhuhur pada pertengahan Oktober lalu saat hendak bersilaturahim ke rumah teman di Meruyung, Sawangan, Depok.

Adalah Masjid Raya Cinere (MRC), nama yang tertulis di pintu gerbangnya. Saat memarkirkan kendaraan, seorang petugas keamanan dengan ramah menyambut kami. Tak menunggu lama, kami pun langsung menuju ke area wudhu yang ada di sisi timur tepat di bawah tangga –yang menghubungkan halaman dengan ruang utama sholat. Ya, ruang sholat utama ada di lantai dua. Sementara, lantai dasar sepertinya digunakan untuk keperluan pertemuan, meski tampak pula beberapa jamaah yang menunaikan sholat di ruangan ini. Karena memang, ruangan ini pun digunakan sebagai ruang sholat tambahan ketika jamaah membludak semisal pelaksanaan sholat jumat atau hari raya tentunya.

Pada ruang sholat utama –yang dihampari karpet warna hijau tua pada sekira lima shaf terdepan, sisanya hamparan karpet warna senada bermotif sajadah— ornamen kayu begitu mendominasi setiap sisinya. Meski pada sisi kiblatnya dibalut dengan batu alam berupa marmer warna putih abu-abu, aksen kayu pada dinding itu kian mempermanis. Seperti ukiran kayu berupa kaligrafi yang membentangkan di atas mihrab serta partisi, jendela kayu hingga kap lampu pun semuanya berbahan kayu. Hawa sejuk terasa, begitu semilir angin masuk lewat partisi serta ventilasi. Selain itu pengelola pun menyediakan kipas angin di beberapa titik.

Untuk menuju ruang sholat utama yang ada di lantai dua, bisa diakses melalui tangga utama dari halaman depan masjid. Selain itu, bisa diakses melalui tangga yang ada di sisi kanan dan kiri pojok timur masjid ini. Tangga ini merupakan akses dari area wudhu yang ada di sisi kanan untuk jamaah wanita dan sisi kiri untuk jamaah pria. Ruang sholat untuk jamaah wanita sendiri terletak di belakang bagian tengah yang dibatasi dengan partisi kayu.

Area wudhu sendiri disetting dengan rapi dengan sistem oneway. Artinya, jamaah masuk dan keluar ruang wudhu melalui pintu yang berbeda. Dimana ketika usai berwudhu maka, jamaah harus keluar mengikuti alur yang sudah ditentukan. Sehingga tidak menimbulkan tabrakan antara jamaah. Selian bersih dan terawat dengan baik, area wudhu ini pun dilengkapi dengan toilet.

Jadi, bagi saudara-saudaraku yang tengah melintas di jalan raya Cinere-Limo menuju Depok jika memang waktu sholat telah masuk dan hendak menunaikan ibadah sholat, sekaligus rehat sejenak, maka tak usah ragu-ragu untuk memarkirkan kendaraannya di halaman samping masjid ini. Lokasi masjid sendiri jika dari arah Mal Cinere sekira 3 km –tepat menjelang SPBU yang ada di tengah-tengah jalur tersebut—  berada di sisi kiri. Dari kejauhan pun menara kubah kecil masjid ini sudah terlihat, sehingga memudahkan untuk menemukannya. Semoga membantu.

Catatan: Terakhir kami menyambangi masjid ini pada pertengahan Oktober lalu.

Masjid Annur, Pancoran, Jakarta

December 8, 2010

Masjid ini merupakan pengembangan dari bangunan musholah sebelumnya. Hal ini ditegaskan prasastri yang terdapat di dinding depan. Tak hanya itu, bangunan baru yang menyatu dengan bangunan lama jelas terlihat, meski dibalut warna senada. Bangunan baru sendiri berada di sisi barat sementara bangunan lama di tengah-tengah menghadap ke timur dengan teras yang cukup luas.

Bangunan baru yang menjadi ruang sholat utama ini dikelilingi dengan dinding kaca yang tinggi berupa jendela. Ventilasi berbentuk kubah pun berderet mengelilingi dinding bagian atas sisi kanan kirinya. Tak heran bila, masjid ini tampak lapang, terang dan bermandikan cahaya matahari. Pada dinding sisi barat (kiblat) dilapisi batu alam, granit warna krem yang menghangatkan. Sementara lantainya dihampari permadani warna hijau muda dengan motif garis warna hijaunya –sebagai penegas shaf— mempermanis paduan warna yang ada.

Ruang sholat utama ini bisa diakses dari sisi kanan, kiri dan belakang. Pun dengan ruang sholat untuk jamaah wanita yang ada di sisi belakang selain bisa di akses melalui pintu samping, juga bisa melalui sisi depan. Meski bangunan ini dilengkapi dengan banyak bukaan berupa jendela dan ventilasi pada sekeliling temboknya –guna memberi kesejukan, terlebih saat teriknya matahari— pengelola juga melengkapinya dengan kipas angin di beberapa titik. Area tempat wudhu sendiri ada di sisi kanan sisi barat, yang dilengkapi dengan toilet. Area wudhu juga dapat ditemui di sisi kanan dan kiri bagian teras depan.

Masjid yang berada di jalan Pancoran Timur ini, tak hanya disambangi penduduk sekitar masjid, tapi kerap pula disambangi para pengendara yang melintas saat waktu sholat tiba. Termasuk penulis, sekiranya telah merasakan kenyamanan masjid ini ketika beberapa kali melintas kawasan tersebut. Bagi pengendara tentunya bisa memarkirkan kendaraan di sisi kanan masjid ini –yang merupakan jalan masuk ke pemukiman. Pun dengan pengendara motor, pengelola masjid pun telah menyiapkan lahan parkir yang dijaga.

Nah, bagi pengendara maupun para musafir yang tengah melintasi kawasan jalan Pancoran Timur bisa memanfaatkan keberadaan masjid ini untuk menunaikan ibadah sholat, sekaligus rehat sejenak. Tenang, bagi yang merasa dahaga bisa menikmati aneka jajanan kaki lima baik yang mangkal maupun pedagang yang tengah melintas di kawasan ini. Posisi masjid sendiri ada di sisi kiri jika dari arah Pancoran menuju Kalibata atau Cawang. Semoga membantu.

Catatan: Masjid ini terakhir disambangi pada akhir September lalu.

Musholah Rest Area KM 62 Tol Cikampek

November 25, 2010

Kini, kehadiran fasilitas peristirahatan yang tersebar di beberapa titik sepanjang jalan tol Cikampek kian memanjakan pengguna jalur ini. Betapa tidak, fasilitas rest area yang dimaksud tampil lebih luas, nyaman, lengkap dengan beragam fasilitas penunjang serta selaras dengan gaya hidup masa kini. Ya, fasilitas segala kebutuhan pengguna jalur ini tersedia, mulai dari stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), toilet, warung makan kaki lima, resto cepat saji hingga kafe. Tinggal pilih, sesuai selera dan tentunya kondisi kocek. Pun bagi yang sekedar untuk istirahat sejenak menghilangkan lelah hingga untuk menunaikan ibadah. Fasilitas itu tersedia dengan lebih nyaman dibanding dengan kondisi tempat peristirahatan lima tahun lalu yang hadir seadanya.

Satu dari sekian fasilitas yang ada yakni musholah. Seperti tak ingin sekedar ada, pengelola pun menyediakan fasilitas ini setara dengan bangunan tempat kongko-kongko yang ada di sekitar kawasan tersebut dan tentunya sedikit terawat. Musholah yang ada di rest area KM 62 –yang terletak di sisi selatan atau tepatnya sisi kiri tol dari arah Cikampek— berada di tengah-tengah kawasan.

Ya, kawasan ini kerap menjadi persinggahan saya dan keluarga. Paling tidak, pada musim lebaran 2010 lalu, di rest area inilah kami singgah untuk menunaikan kewajiban dan memulihkan stamina lagi setelah di dera kemacetan sepanjang pantura. Tentunya di kawasan ini pula kami memberi ’hak’ perut kami sekeluarga untuk diasupi makanan yang bergizi. Secara perjalanan menuju rumah yang ada di kawasan Ciputat masih harus ditempuh sekira satu hingga dua jam lagi.

Setidaknya, posisi ini tentunya sangat strategis dan mudah ditemui bagi kaum muslimin yang hendak menunaikan ibadah sholat. Di sebelah timur dan utara terdapat bangunan yang ditempati beberapa resto cepat saji seperti Solaria, Bakso Malang dan beberapa toko yang menjajakan aneka cemilan. Di sisi timur tak jauh dari bangunan tersebut merupakan area SPBU. Di sisi barat-utara (barat daya) di seberang jalan terdapat resto cepat saji AW. Pastinya, musholah ini menjadi pusat perlintasan kendaraan yang hendak ke SPBU maupun yang mau keluar kawasan.

Musholah sendiri memiliki tiga pintu masuk yang ada di sisi kanan kiri dan belakang. Untuk tempat wudhunya sendiri ada di sisi kanan dan kirinya. Tempat wudhu bagi jamaah pria terdapat di sisi kiri, sementara area wudhu sisi kanan diperuntukan bagi jamaah perempuan. Meski demikian, untuk menuju ruang sholat, kaum perempuan harus melalui pintu masuk yang ada di sisi timur (belakang). Sedangkan jamaah pria bisa memasuki ruang sholat dari dua pintu yang ada di sisi kanan dan kiri.

Ruang sholat lumayan luas, meski harus berbagi dengan jamaah perempuan yang menempati ruang bagian belakang –yang hanya dibatasi dengan kain warna hijau yang membelah sepertiga dari luas musholah tersebut. Hamparan karpet bermotif sajadah warna hijau dan merah membentang dari shaf depan hingga paling belakang –yang digunakan untuk ruang sholat perempuan. Kesan luas juga terlihat dari teras samping kiri dan sisi timur yang lumayan luas. Sepertinya musholah ini pun kerap digunakan untuk pelaksanaan sholat jumat.

Sapuan warna hijau pada dinding bangunan musholah ini memberi kesan sejuk. Tidak hanya itu, untuk menghadirkan hawa sejuk dan memberi kenyamanan dalam beribadah, pengelola melengkapinya dengan kipas angin yang dipasang di beberapa titil. Maklum, kawasan yang baru dibuka ini masih tampak terik, ditambah lagi dengan semburan asap serta hawa panas yang menyeruak dari kendaraan yang parkir atau melintas.

Jadi, jika tengah melintasi tol Cikampek menuju arah Jakarta, rasanya tak usah sungkan untuk beristirahat sejenak kala lelah mendera. Tentunya, ketika waktu sholat tiba, di lokasi ini selain bisa menunaikan ibadah, waktu untuk istirahat, makan dan keperluan lainnya tertunaikan di rest area ini –yang bisa ditemui tak lebih dari 20 km dari gerbang masuk tol Cikampek. Semoga sedikit membantu.

Catatan: Musholah ini terakhir kami menyambanginya pada saat kembali dari mudik lebaran 2010, medio September silam.

Masjid Jami Baitul Mu’minin, Indramayu

November 25, 2010

Jalur pantai utara (pantura) merupakan penghubung utama antara ibukota dengan kota-kota yang ada di Jawa, khususnya di yang ada pesisir utara. Tak pelak, jalur ini tak pernah sepi. Apalagi di musim mudik misalnya, pantura kerap dilanda kemacetan. Siapa pun mafhum akan kondisi tersebut. Termasuk saya dan keluarga –yang tinggal di kota Cirebon— selalu melintasi kawasan tersebut, kala mudik lebaran kemarin.

Tentunya, sepanjang jalur pantura yang melintasi kota Subang, Purwakarta, Indramayu hingga Cirebon sebagai kota tujuan, ada banyak bangunan masjid dan musholah yang bisa ditemui. Ya, baik di sisi kanan maupun sisi kiri jalur tersebut, beragam arsitektur masjid berdiri, mulai dari yang sederhana hingga yang tampak megah. Beberapa diantara bangunan masjid, pernah kami sambangi saat melintasi jalur tersebut.

Satu diantaranya adalah Masjid Jami’ Baitul Mu’minin. Masjid yang terletak di desa Sumur Adem, Indramayu ini, kami sambangi pada waktu dzuhur tiba, kala pulang kembali ke ibukota. Masjid ini kami pilih, selain berada di sisi kiri dari arah Cirebon tentunya, juga masih ada tempat yang lowong untuk bisa memarkirkan kendaraan waktu itu, meski di pinggir jalan.

Bangunan masjid sendiri terbagi menjadi tiga bagian. Bagian depan merupakan bangunan masjid dan dijadikan ruang sholat utama. Bangunan kedua yang ada di tengah sepertinya digunakan untuk sekretariat masjid. Selain itu di bangunan tengah ini ada ruang sholat bagi kaum perempuan, meski pun di bangunan utama telah tersedia ruangan serupa. Sementara bangunan berikutnya yang ada di pojok belakang merupakan area tempat wudhu dan toilet.

Ruang utama masjid sendiri tampak bagitu lapang. Pasalnya, selain atapnya yang tinggi, di tengah-tengah terdapat void kubah yang menjulang yang ditopang empat pilar. Dari kubah ini semburat cahaya alam menyinari ruangan. Pun dengan sisi kanan dari bangunan ini terdapat jendela-jendela besar, sehingga sinar mentari begitu bebas masuk menerangi. Begitu pula dengan ruang mihrabnya, lumayan luas. Sebuah mimbar podium warna coklat kayu terdapat di sisi kanannya.

Hamparan karpet warna hijau terbentang –yang memuat sekira tiga shaf— pada lantai keramik warna putih. Sepertinya untuk di bagian tengah hingga shaf belakang, karpet hanya dihamparkan pada waktu tertentu. Pada sisi kiri mulai dari tiang hingga ke shaf belakang digunakan untuk ruang sholat jamaah perempuan dengan partisi dari rotan sebagai pemisahnya. Meski hanya berjarak sekira 3 meter dari jalanan, masjid ini tampak sejuk. Ya, selain banyaknya bukaan pada sisi kanan kirinya, pengelola pun melengkapinya dengan kipas angin baling-baling besar yang dipasang di beberapa titik.

Area wudhu yang berada di bangunan belakang lebih sejuk lagi. Meski tampak sederhana, untuk memasuki area ini jamaah harus melalui kolam air yang mengalir sedalam tumit orang dewasa. Kolam ini berfungsi selain untuk sekedar mencuci kaki sebelum dan sesudah dari tempat wudhu, juga memberi kesan alami dengan kecipak dan gemercik aliran airnya. Meski demikian, sepertinya pengelola kurang memperhatikan faktor kebersihan di area ini. Hal ini tampak dari adanya keramik yang dibiarkan kotor dan berlumut pada beberapa sudutnya. Pun dengan air kolamnya yang agak sedikit keruh. Mungkin karena saat itu lagi ramai yang lalu lalang sehingga menjadi keruh.

Nah, jika Anda tengah melintasi kawasan Indramayu khususnya di daerah Sumur Adem, tak usah sungkan-sungkan untuk memarkirkan kendaraan di area parkir masjid Baitul Mu’minin ini ketika waktu sholat tiba atau sekedar untuk ngaso sejenak. Tentunya, jika dari arah Jakarta posisi masjid ini ada di sisi kanan, sebaliknya jika dari arah Cirebon, maka bangunan ini tepat di sisi kiri, sehingga tak usah repot untuk menyebrang. Semoga sedikit membantu.

Catatan: Masjid ini kami sambangi saat pulang dari mudik lebaran, pada pertengahan September lalu.

 

Musholah Mal Grage, Cirebon

November 25, 2010

Sore itu, langit Kota Cirebon begitu cerah. Ya, secerah geliat perkembangan gaya hidup masyarakat kota sekitar pesisir pantai utara. Betapa tidak, di kota kecil ini segala fasilitas penunjang gaya hidup telah hadir, seiring dengan roda perekonomian yang terus melaju pesat. Yang menakjubkan, tradisi serta nilai-nilai budaya tetap terpancar dari jiwa-jiwa yang tengah berparade di setiap sudut kota, sore itu. Meski kini, balutan serta warna-warna yang diusung agak sedikit pudar digerus zaman.

Di saat yang sama, saya beserta istri pun tengah memanjakan mata di sebuah pusat perbelanjaan yang menjadi icon kota itu, Mal Grage. Ya, selain berada tepat di jantung kota, mal ini pun dilengkapi beragam fasilitas. Pun jika ingin melanjutkan ke tempat yang lainnya di kota ini, tak usah repot-repot. Pasalnya dari titik itu menjadi perlintasan semua moda transportasi di kota itu.

Adzan Ashar baru saja berkumandang, sebelum berlanjut melihat-lihat mal yang sore itu penuh sesak. Maklum masih dalam suasana lebaran –yang tentunya, kota Cirebon masih dipadati warganya yang tengah mudik. Akhirnya saya putuskan untuk menunaikan ibadah sholat terlebih dulu. Ternyata musholah di Mal itu, masih berada di lokasi yang sama sejak pertama kali dibuka. Hanya saja, kini, koridor jalan di depan musholah itu bisa langsung menuju ke hotel Grage yang menjadi bagian dari mal itu.

Bangunan musholah yang menghadap koridor menuju ke area parkiran hotel itu terdiri dari dua ruangan sholat. Di sisi kiri untuk jamaah perempuan, sementara di sisi kananya –yang dipisahkan oleh area tempat wudhu— jamaah pria. Ukuran ruangan sholat sendiri tidak begitu luas, hanya sekira 30 meter persegi. Ini pun tidak dilengkapi dengan mihrab. Pasalnya, selain bentuknya memanjang, ternyata arah kiblatnya agak sedikit menyerong. Tentu saja, dengan ukuran ruangan seluas itu hanya menampung sekira tiga shaf (baris), yang memuat delapan hingga sepuluh orang per barisnya.

Pintu masuk ke ruangan sholat ini –yang dihampari karpet bermotif sajadah warna hijau— hanya tersedia satu pintu di sisi kiri yang langsung terhubung dengan tempat wudhu. Sementara pada tembok sisi kiblatnya dihiasi dengan beberapa lukisan kaligrafi dalam ukuran kecil dan besar. Tidak hanya itu, pengelola pun melengkapinya dengan pendingin ruangan, meski terkadang nyaris tak terasa hembusan hawa dingin itu. Hal ini tentu, selain dikarenakan posisinya yang menghadap ke jalan yang kerap dilalui keluar masuk kendaran maupun hembusan hawa panas yang berasal dari luar gedung.

Namun demikian, kondisi tersebut dapat dimaklumi tentunya. Selain hari itu mal tengah dipadati pengunjung, juga waktu sholat baru saja masuk. Tak heran, antrian pun mengekor dari teras hingga ke koridor depan musholah yang menghadap ke beberapa toko yang menjajakan produk factory outlet. Di teras ini pun kerap menjadi ruang tunggu pengunjung yang tengah ke musholah maupun keperluan lainnya.

Nah, jika anda tengah berada di kawasan perbelanjaan yang ada di bilangan Gunung Sari ini –yang menjadi titik pertemuan antara jalan Kartini, jalan Cipto Mangunkusumo, jalan Tentara Pelajar, jalan dr Wahidin dan jalan Tuparev— bisa memanfaatkan musholah ini saat waktu sholat tiba. Posisi musholah sendiri ada di pintu masuk sisi timur, atau tepatnya di depan koridor menuju area parkiran hotel. Jika dari area mal, bisa menuju ke kawasan cineplex21, lalu setelah ketemu tangga berjalan yang ada di sisi kanan turun. Tangga ini menjadi akses keluar menuju parkiran maupun ke arah jalan Tentara Pelajar. Jika dari parkiran mal sisi selatan maka, musholah ini bisa diakses dengan menyusuri koridor depan mal ke arah timur. Semoga sedikit membantu.

Catatan: Musholah ini terakhir kami menyambanginya medio September lalu.

Masjid Al-Mu’minun, Cipeundeuy Subang Jabar

October 25, 2010

Jalur tengah Sadang-Kalijati-Subang-Cikamurang memang menjadi alternatif bagi siapapun yang akan menuju Cirebon atau Jawa Tengah, ketika pantura yang menjadi jalur utama tak bisa dilalui alias macet. Termasuk, kami sekeluarga ketika hendak mudik lebaran lalu. Alih-alih hendak nekad menerobos ke jalur pantura, usai terjebak macet di kilometer akhir menjelang pintu tol Cikampek, malah dibuang ke arah Subang. Mau tak mau akhirnya kami mengikuti arahan petugas lalu lintas yang siang itu sepertinya sudah di titik nadir kesabarannya mengatur lalu lintas jalan. Meski akhirnya, kemacetan pun harus kami rasakan lagi ketika di pertigaan Sadang.

Lepas dari kemacetan panjang di pertigaan terminal dan pusat perbelanjaan di daerah Subang, kami melewati jalanan yang berkelok. Ketika memasuki wilayah Cipeundeuy, jarum jam menunjuk angka 3.30 sore, akhirnya diputuskan untuk mencari tempat istirahat. Pilihan terbaik adalah mencari masjid yang ada di sisi kiri. Tapi sepanjang Cipeundeuy hingga menjelang kawasan hutan karet, belum juga menemukan masjid yang ada di kiri jalan. Jalanan masih berkelok, dan dari kejauhan tampak bangunan masjid, tapi adanya di sisi kanan jalan. Karena sedari keluar tol belum istirahat akhirnya masjid itupun jadi pilihan untuk istirahat sekaligus menunaikan ibadah sholat ashar.

Adalah masjid Al-Mu’minun, nama yang terpampang di dinding terasnya. Masjid yang terletak di desa Wantilan ini masih masuk dalam Kecamatan Cipeundeuy, Subang. Secara fisik, masjid ini tampil sederhana apa adanya layaknya masjid-masjid di perkampungan. Rupanya, masjid yang kami singgahi ini kerap ramai disambangi pengendara yang tengah melintasi jalur tengah. Pasalnya, selain tampak dari beberapa mobil yang kami temui saat itu, di area halaman luar masjid ini pun terdapat beberapa warung makan, baso dan aneka jajanan lainnya. Kami pun menyempatkan diri untuk mencicipi mie ayam baso olahan warga setempat, plus minuman dingin dan hangat pula ikut tersaji.

Masjid yang terletak di sisi kanan (utara) lapangan bola yang letaknya tersembunyi karena tertutup deretan rumah warga dan warung yang menghadap ke jalanan. Sementara di sisi selatan lapangan bola itu tampak jejeran pohon karet yang menjorok ke arak barat. Ruang utama masjid berbentuk persegi ini hanya dihampari karpet bermotif sajadah berwarna hijau sekira tiga shaf (baris) saja. Selebihnya tumpukan karpet menggulung di sisi kanan dan belakang ruang beralas keramik warna putih susu. Keramik warna hitam membalut dinding bagian kiblat. Dimana pada bagian ruang mimbarnya terdapat dua lengkungan kubah bergaris keramik warna merah tua. Pun pada mimbarnya, sepertinya sengaja dibuat permanen dengan bahan keramik sewarna dengan polesan garis bercat hijau sebagai penegasnya. Meski di pinggir jalanan, masjid ini tak terasa pengap atau pun berhawa panas. Pasalnya hembusan angin begitu kuat berhembus dari sisi kiri yang terhubung langsung dengan lapangan bola dan hutan karet. Selain itu,  pada setiap sisinya, terdapat kipas angin.

Sementara ruang wudhu sendiri ada di sisi kiri depan dari masjid. Area yang dilengkapi dengan toilet ini pun dibagi dua untuk jamaah pria dan kaum hawa. Area tempat wudhu ini terhubung dengan teras depan dan samping bagian kiri. Sementara pintu masuk utama tetap berada di depan sisi tengah. Meski di sisi kiri pun terdapat pintu di tengah-tengah antara jendela-jendela yang berjejer di sepanjang tembok sisi kiri.

Nah, jika memang anda sengaja atau memang terpaksa melintasi jalur tengah Sadang-Subang-Cikamurang tak usah kuatir dengan medan yang ada. Memang kondisi aspal jalannya sudah mulai terkelupas. Ada banyak lubang di sepanjang itu. Ketika hendak istirahat atau memang belum menunai ibadah sholat saat melintas kawasan Cipeundeuy bisa memilih masjid ini sebagai tempat istirahat sejenak untuk beribadah dan sekaligus untuk menghilangkan kepenatan ayau sekedar mengganjal perut. Ada banyak pilihan jajanan yang dijajakan warga di sepanjang jalan. Semoga sedikit membantu.

Catatan: Masjid ini kami sambangi saat mudik pas di hari lebaran 2010 lalu.

Masjid Rest Area Tol Jakarta-Cikampek KM 40

October 22, 2010

Seiring meningkatnya gaya hidup, fasilitas tempat peristirahatan atau yang lebih dikenal dengan rest area di sepanjang jalur tol Jakarta – Cikampek tampil lebih lengkap dibanding tiga atau lima tahun lalu. Ya, selain menghadirkan SPBU dan toilet, rest area kini dilengkapi dengan beragam pilihan tempat istirahat berupa toko, cafe, resto atau rumah makan cepat saji –dengan segambreng brand franchise. Padahal dulu, paling banter hanya tersedia warung makan ala kadarnya plus toilet. Meski memang, lokasi rest area yang terbilang sederhana dan apa adanya masih bisa di dapati di beberapa area. Paling tidak, di tempat peristirahatan itu yang terlihat hanyalah kendaraan besar sekelas truk barang. Atau kalaupun ada kendaraan kecil, bisa jadi karena terpaksa saja.

Setidaknya, sepanjang jalan tol dari Jakarta menuju Cikampek terdapat sekira tiga tempat peristirahatan dengan fasilitas yang terbilang cukup wah untuk beristirahat. Tentu saja, semua itu dikarenakan tuntutan gaya hidup masyarakat sebagai pengguna fasilitas jalan tol. Termasuk di dalamnya, keberadaan tempat ibadah berupa masjid atau musholah yang hadir dengan tampilan yang layaknya sebuah musholah atau masjid. Salah satunya adalah masjid yang ada di rest area KM 40, tol Jakarta – Cikampek. Pada saat mudik lebaran lalu, kawasan ini menjadi pilihan kami untuk sekedar istirahat mengistirahatkan kendaraan setelah didera kemacetan. Di saat yang bersamaan, kumandang adzan dhuhur dilantunkan dari masjid yang terletak di sisi kanan SPBU.

Secara fisik, ukurannya yang mungil untuk sebuah masjid. Namun begitu, tak semungil fasilitas yang disediakan. Selain memiliki ruang sholat yang lapang berbentuk persegi, di tiga sisi kanan, kiri dan depannya terdapat teras yang lapang pula. Kesan lapang tampak dari banyaknya bukaan semisal pintu yang berukuran besar serta jendela kaca berukuran besar pula. Bangunan yang didominasi sentuhan warna krem dan tembaga pada bingkai pintu dan daunnya, serta pada jendelanya ini, mudah ditemui, karena tidak saja arsitekturnya yang unik, lokasinya pun lebih tinggi dari area parkiran.

Ruang sholat sendiri dihampari karpet bermotif sajadah warna hijau bergaris merah mampu menampung sekira delapan shaf (baris) dengan sekira 15 orang setiap shafnya.  Masjid berlantai satu ini, dilengkapi tiga pintu masuk dari sisi kanan, kiri dan depan –yang langsung terhubung dengan tempat wudhu. Meski berada di jalur tol –yang tentunya bising dengan deru kendaraan serta udara yang cukup panas di siang hari– kesan sejuk begitu terasa di masjid yang memiliki banyak bukaan di setiap sisinya. Selain itu, pengelola pun melengkapinya dengan beberapa kipas angin di setiap sisinya pula.

Kesan modern namun tetap menghadirkan nuansa pedesaan tampak pada tempat wudhu yang didominasi dengan bebatuan. Tempat wudhu yang sekaligus dilengkapi dengan toilet ini pun dibagi dua antara jamaah pria dan wanita. Untuk jamaah pria ada di sisi kanan sementara wanita ada di sisi kiri, jika kita menghadap kiblat/masjid.

Nah, jika anda tengah melintasi jalan tol Jakarta – Cikampek menjelang memasuki daerah Karawang dan berencana untuk beristirahat dan menunaikan kewajiban lima waktu, tak ada salahnya rest area KM 40 ini menjadi pilihan. Tentunya, di area ini selain anda bisa menunaikan ibadah sholat dan yang lainnya, anda pun bisa beristirahat sekedar menghilangkan kepenatan atau makan dan minum. Semoga sedikit membantu.

Catatan: Masjid yang ada di Rest Area KM 40 ini terakhir disambangi pada awal September lalu disaat mudik lebaran.