Skip to content

Prolog

Wajar memang, jika negeri ini disebut-sebut sebagai negeri sejuta masjid. Pasalnya setiap sudut ruang kota hingga kampung dengan mudah fisik ‘masjid’ itu bisa ditemui. Termasuk musholah, sebutan lain dari masjid karena ukuran bangunan dan peruntukannya yang lebih sempit dibanding masjid tentunya.

Dan tak heran bila Indonesia dengan 240 juta jiwa penduduknya yang mayoritas beragama muslim membutuhkan keberadaan masjid/mushola itu. Dimana pun. Tak sebatas di pemukiman perumahan di kota maupun di kampung. Bentuk fisik masjid/musholah itu pun kini dapat ditemui di gedung perkantoran baik instansi pemerintah maupun swasta. Pun dengan di hotel biasa hingga berbintang lima. Terlebih di kawasan pusat perbelanjaan mulai dari pasar tradisional hingga yang modern, semisal mal, baik yang kelas bawah hingga kelas wahid. Meski keberadaanya terkadang banyak mengundang tanya. Termasuk saya, mungkin Anda juga? Ya, terkadang masjid/musholah itu dihadirkan dengan begitu ‘wah’ atau biasa-biasa saja. Bahkan ada yang ala kadarnya saja –yang penting ada.

Dari sinilah, sepanjang saya menyambangi baik dalam rangka menjalankan tugas atau sekedar jalan-jalan sebisa mungkin menyempatkan mengamati dan jika berkesempatan membidiknya sekedar untuk memperkuat gambaran yang ada. Jadi apa yang saya gambarkan dalam setiap kesempatan menyambangi masjid/mushola yang dimaksud adalah hanya sekedar pendapat pribadi saya. Mohon maaf jika tidak berkenan. Dan saya akan sangat berterima kasih bila ada pihak-pihak yang berkepentingan dalam hal ini sudi untuk mengkonfirmasikan bila ada sesuatu yang salah dalam beberapa tulisan seputar masjid/musholah yang di maksud.

Tulisan seputar masjid/musholah ini saya tulis sejak awal 2006, khususnya musholah yang ada di sekitar hotel, gedung dan mal. Dimana sebelumnya dan hingga kini masih saya posting/publish di blog pribadi  lainnya menggunakan fasilitas yang disediakan jaringan Multiply.com dengan alamat http://hayat.multiply.com tentunya redaksi di blog ini sedikit ada yang berubah, ada pula yang sama persis  sekedar untuk menyesuaikan situasi dan kondisi yang ada. Dan hal itu saya pertegas kembali dengan membubuhi catatan di akhir tulisan.

Terima kasih…..

Izoruhai

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: