Skip to content

Selamat Tahun Baru 1434 H

November 15, 2012

Subhanallah… Alhamdulillah… Allahuakbar

Dengan mengharap ridho-Nya, saya pribadi dan sekeluarga mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 1434 Hijriyah, Semoga kita semua senantiasa dalam keberkahan dalam menggapai Ridho-Nya. Amiiiin.

Tak terasa, ketika berselancar di dunia maya diri ini teringat akan blog yang pernah dibangun beberapa tahun silam. Rupanya blog ini lumayan lama tidak di-update. Malu rasanya ketika melihat dan membaca blog ini, betapa egoisnya diri ini meninggalkannya begitu saja. Termasuk kepada para teman-teman yang rela mengunjungi blog ini. Ada banyak pesan baik itu pertanyaan, saran maupun kritikan. Untuk itu, saya mohon maaf. Insya Allah lewat momentum Tahun Baru 1434 Hijriyah, semangat untuk berbagi informasi seputar masjid, musholah mulai bangkit kembali. Semoga semangat itu terus terjaga, istiqomah dalam diri ini.

Kepada para teman-teman yang sudah mengunjungi blog ini saya haturkan terima kasih. Dan jika memang mempunyai informasi seputar dunia masjid dan musholah bolehlah dishare.

Sekali lagi mohon maaf dan terima kasih atas perhatian dan perkenannya mengungjungi blog sederhana ini.

Salam,

Izoruhai

Masjid Asmaul Husna, Alam Sutera Serpong, Tangerang Selatan

December 31, 2010

Suatu ketika, saat melintasi kawasan perumahan elite sekelas Alam Sutera di daerah Serpong, Tangerang Selatan, adzan Magrib baru saja berkumandang. Sejenak berpikir untuk mencari lokasi musholah ataupun masjid. Namun, ternyata sejak memasuki pintu gerbang dari arah jalan Serpong Raya, belum menemukan bangunan yang dicari. Akhirnya yang dicari pun baru bisa ditemui di ujung kawasan –yang berbatasan langsung dengan perkampungan.

Adalah Masjid Asmaul Husna, nama yang disematkan pada bangunan yang tampak megah berselimut warna krem. Usai memarkirkan sepeda motor, langsung saja menuju masjid berlantai dua. Untuk menuju ruang sholat, jamaah harus menaiki anak tangga menuju lantai dua yang menjadi ruang sholat. Termasuk area wudhu yang ada di bagian kanan kirinya di sisi timur.

Masjid berukuran besar dan berlantai batu granit ini dengan tata pencahayaan (lighting) yang hangat sehingga senada dengan warna dindingnya. Pada ruang tengahnya, tepatnya di barisan (shaf) terdepan dihampari karpet bermotif sajadah warna merah. Pada bagian kiblat, khususnya ruang mihrab yang berbentuk lengkungan kubah memanjang tampak manis dengan hadirnya bingkai serupa pada sisi dalamnya. Dimana di bagian bawahnya terdapat sebuah lemari kaca warna cokelat. Sementara di bagian depan kanan terdapat mimbar berupa podium dengan warna senada.

Ruang sholat utama –yang menjadi ruang sholat untuk jamaah pria— berukuran luas berlantai granit warna krem dan abu-abu tua menghiasi lantai masjid ini. Sementara ruang sholat jamaah perempuan ada di bagian belakang sisi timur. Dalam kesempatan itu, ruang sholat utama –yang berukuran luas— hanya terisi satu shaf saja. Pun di bagian ruang belakang yang digunakan jamaah perempuan hanya terisi beberapa orang saja.

Area wudhu sendiri terdapat di sisi timur. Dimana untuk jamaah pria ada di sisi kanan, sedangkan sisi kirinya dijadikan ruang wudhu jamaah perempuan. Di area wudhu ini dilengkapi dengan fasilitas toilet. Namun sayangnya, sepertinya masjid sebesar ini kurang perawatan. Hal ini tampak dari kondisi area wudhu yang kurang bersih dan rapi.

Pun dari sisi syiar, masjid berarsitek modern ini tak banyak dikunjungi jamaah. Bisa jadi karena lokasinya yang berada di luar klaster.  Selain itu, ternyata tepat di depan lokasi masjid, terdapat bangunan serupa yakni masjid –yang merupakan bagian dari perkampungan yang menempel dengan kawasan Alam Sutera. Namun demikian, masjid ini menjadi tempat sholat bagi para karyawan beberapa kantor serta penghuni perumahan yang ada di kawasan Alam Sutera.

Nah, tentunya bagi Anda yang tengah melintas atau berada di beberapa perkantoran di kawasan Alam Sutera ketika tiba waktu sholat, rasanya tak usah segan-segan untuk langsung menuju masjid Asmaul Husna yang ada di sisi sudut pemukiman tersebut. Masjid itu tepat berada beberapa meter sebelum pintu keluar kawasan. Pada sisi barat daya dari masjid tersebut terdapat kantor pelayanan Bea Cukai. Sementara di sisi selatannya yang bersisian dengan perkantoran tersebut terdapat pula masjid kampung –yang tak kalah ramai setiap waktunya.

Catatan: Masjid ini pertama kali saya sambangi pada awal November lalu, saat waktu magrib, sepulang dari Karawaci.

Musholah Baitul Quds, Villa Ilhami Karawaci, Tangerang

December 31, 2010

Karawaci, Tangerang memang terkenal sebagai kawasan pemukiman elit. Ada banyak klaster perumahan yang menawarkan kemewahan dengan beragam dukungan fasilitas yang berkelas. Salah satunya, sebut saja Villa Ilhami yang ada di sisi tol Jakarta-Merak, tepatnya masih satu kawasan dengan Islamic Center. Ya, pasalnya di kawasan ini terdapat beberapa klaster perumahan berkonsep Islam. Tentunya, di perumahan ini kehadiran tempat ibadah baik berupa masjid maupun musholah menjadi sebuah keniscayaan, sebagai simbol dari keberadaan perumahan tersebut.

Sebut saja, Musholah Al-Quds yang di kluster Villa Ilhami, meski statusnya musholah, namun sejak beberapa waktu lalu digunakan pula untuk pelaksanaan sholat jumat. Hal ini ditegaskan oleh pengurus RT dimana lokasi musholah berdiri yakni di antara blok A dan B. Bangunan musholah ini pun menjadi pusat pertemuan warga penghuni klaster tersebut. Hal ini tampak dari adanya fasilitas lapangan olahraga, sekretariat, pendopo pertemuan dan beragam fasilitas lainnya.

Musholah berlantai dua ini dilengkapi dengan beragam fasilitas. Seperti di ruang sholat utama berlantai keramik putih ini,  dihampari karpet bermotif sajadah warna merah. Sementara pada dindingnya disapu dengan sentuhan warna hijau salem. Pada bagian mihrabnya, lukisan kaligrafi menjadi frame pada lengkungan atasnya. Kaligrafi selebar 40 sentimeter pun memanjang menghiasi sekeliling pada dindingnya. Di bagian tengahnya terdapat empat tiang penyangga dengan warna senada. Sedangkan pada sisi kanan kiri dan sisi depannya, dinding berkaca membuat bangunan ini selalu mandi cahaya. Selain memiliki bukaan sirkulasi udara berupa jendela berukuran besar, pengelola pun melengkapinya dengan kipas angin yang dipasang di beberapa titik untuk mengurangi hawa panas.

Area wudhu sendiri terdapat di sisi kiri tepatnya di bagian sudut kiri belakang di bawah sekretariat musholah. Area ini memang ada di bagian luar musholah yang terpisah oleh lapangan badminton. Lokasi musholah ini memang berada di sudut area blok A dan B dan bisa diakses dari jalan utama klaster tersebut, meski hanya sebuah pintu kecil. Pasalnya –perumahan klaster yang menggunakan sistem keamanan ketat— lokasi musholah sendiri yang berada di sisi jalan utama itu dikelilingi pagar besi.

Nah, bagi pembaca yang mungkin tengah bertandang atau melintasi di perumahan ini, ketika waktu sholat tiba, tak usah sungkan-sungkan untuk menunaikannya di musholah tersebut. Lokasinya dari pintu utama, lurus saja, jelang keluar dari blok B, disitulah musholah berada. Jika dari arah jalan Falaqi, hanya berjarak satu blok ada jalan menuju ke musholah. Semoga sedikit membantu.

Catatan: Musholah ini terakhir penulis sambangi di waktu ashar, saat bertandang ke seorang sahabat –sekaligus sebagai Ketua RT-nya— yang tinggal di perumahan tersebut pada awal November lalu.

Masjid Baitul Hamid, Jalan Sanjaya I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

December 31, 2010

Ruas jalan Sanjaya memang tak seramai jalur lalu lintas yang ada di sekitarnya. Jalan sepanjang kurang dari sekira satu kilo ini merupakan akses antara Mabes Polri dan jalan Adityawarman dan beberapa ruas jalan yang ada di kawasan Kebayoran Baru. Di ruas jalan tersebut terdapat bangunan masjid tua bernama Baitul Hamid. Meski di pinggir jalan, masjid ini nyaman, aman dan terasa tenang.

Bangunan masjid ini berdampingan dengan area pemakaman yang memang berada tertutup di belakang masjid. Tentu area pemakaman akan tampak jelas bila, kita berada di dalam masjid tersebut –berada di sisi kirinya atau selatan. Bangunan berlantai dua ini kerap jadi persinggahan para pengendara yang sengaja untuk menunaikan sholat atau pun sekedar rehat sejenak. Bentuk bangunan dari masjid ini memang memanjang. Setiap shafnya hanya memuat sekira sepuluh – lima belas orang saja. Pada sisi kiblat, dindingnya dilapisi keramik warna hijau tua. Dimana dinding ini dipermanis dengan hadirnya figura kaligrafi dan dua buah jam dinding yang diletakkan simetris di sisi kanan dan kirinya.

Ruang sholat utama masjid ada di lantai dasar yang dihampari karpet bermotif sajadah berwarna merah. Sementara pintu masuk sendiri hanya ada satu akses yang ada di sisi tengah yang menghubungkan ruang sholat utama dengan area wudhu dan anak tangga menuju lantai dua. Di ruang sholat utama sendiri, terdapat bagian ruangan yang diperuntukan bagi jamaah wanita –terletak di sisi kiri pojok. Meski demikian pengelola pun menyiapkan ruang lantai dua untuk keperluan yang sama. Namun sepertinya, ruang inilah yang kerap dimanfaatkan jamaah wanita untuk menunaikan sholat. Untuk menghadirkan suasana lebih sejuk, dan jauh dari kesan panas akibat deru dan asap kendaraan yang melintas, pengelola melengkapinya dengan beberapa kipas angin yang ada di beberapa titik.

Area wudhu dan toilet sendiri berada di belakang atau sisi timur atau sisi kiri dari pintu masuk. Selain itu, pengelola pun menyediakan area wudhu tambahan di sisi kanan bagian depan. Tentunya, ini mempermudah orang yang hendak beribadah sholat tanpa harus memasuki terlebih dulu ke masjid. Memang, di area wudhu tambahan ini pengelola tak banyak menyediakan kran, hanya sekira empat saja.

Nah, bagi jamaah kaum Islam yang tengah melintas jalan tersebut, ketika waktu sholat tiba, tentunya tak usah segan-segan memarkirkan kendaraan sejenak untuk bersimpuh kepada-Nya, sekaligus menghilangkan rasa lelah, letih dan lesu setelah menempuh perjalanan panjang. Masjid ini gampang ditemui siapapun. Baik dari arah Mabes Polri maupun dari arah sebaliknya yakni jalan Adityawarman. Bangunan masjid ini berada di depan sehingga menutupi lokasi pemakaman atau kuburan. Semoga sedikit membantu.

Catatan: Masjid ini terakhir kami sambangi pada awal November lalu.

Masjid Al-Muhajirin, Serpong, Tangerang Selatan

December 31, 2010

Bagi sebagian kalangan yang kerap menyambangi pusat perbelanjaan mal WTC Serpong, tentunya keberadaan masjid ini sudah tak asing lagi. Terlebih bagi mereka yang berkunjung ke lokasi ini dengan mengendarai sepeda motor. Bangunan masjid dengan kubah warna hijaunya –yang menjulang— akan dilewatinya saat baru tiba atau jelang pulang. Bahkan di sebagian ruas halaman masjid ini pun dijadikan lahan parkir sepeda motor bagi para pengunjung mal. Tak heran bila masjid ini selalu ramai.

Ya, adalah masjid Al-Muhajirin yang kerap penulis sambangi untuk menunaikan ibadah sholat ketika berada di kawasan mal tersebut. Secara keseluruhan, bangunan masjid ini setiap sisinya sengaja dibuat terbuka, layaknya seperti pendopo. Hanya pada bagian sisi barat/kiblat saja yang dipagari tembok tinggi menjulang dengan balutan warna cat putih pada bagian atasnya dan setengah bagian ke bawahnya dilapisi keramik warna krem. Pada bagian mihrab dipermanis dengan ornamen berwarna kuning keemasan serta ukiran lafadz Allah pada bagian tengahnya. Di ruang yang cukup luas inilah terdapat mimbar kayu berukir ditempatkan.

Pada ruang sholat utama –yang menjadi ruang sholat jamaah pria— yang merupakan pengembangan dari bangunan sebelumnya ini terdapat empat pilar tinggi berwarna krem yang menopang kubah di atasnya. Tak heran bila, masjid yang dihampari karpet bermotif sajadah warna merah ini tampak sejuk dan bertabur cahaya serta semilir angin dari segala penjuru arah mata angin. Sementara untuk jamaah wanita ruang sholat berada di bagian sisi kiri yang memanjang dari ruang tengah hingga belakang. Meski masjid ini memakai konsep ruang terbuka, pengelola masjid tetap melengkapinya dengan kipas angin yang diletakkan di beberapa titik.

Area wudhu sendiri terletak di bagian belakang atau sisi timur, tepatnya di tengah-tengah antara sekretariat pengurus masjid/TPA serta perpustaakaan. Dimana untuk jamaah pria menempati sisi kanan atau utara sementara area wudhu wanita ada di sebelah selatannya. Masing-masing tempat wudhu ini memiliki pintu masuk sendiri-sendiri dan dilengkapi dengan toilet. Selain dilengkapi dengan taman bacaan dan adanya kegiatan pendidikan Al-Quran (TPA), masjid ini pun secara rutin menggelar pengajian bagi kaum muslimin dan muslimat setiap minggunya.

Nah, bagi saudara kaum muslimin dan muslimat yang tengah berada di kawasan perbelanjaan Mall WTC Serpong bisa memanfaatkan keberadaan masjid ini. Ya, ketika kumandang adzan atau bahkan mungkin di penghujung waktu karena baru tiba mungkin, maka tak ada salahnya untuk segera menuju masjid yang tepat berada di belakang mal dan berdampingan dengan kantor kelurahan Pondok Jagung. Untuk menuju lokasi masjid ini tidaklah sulit. Yang pasti, selain lokasinya tepat di belakang mal, di dekat pintu parkir keluar, ada pintu masuk –yang sengaja di pagari dengan tonggak besi— menuju ke masjid. Semoga sedikit membantu.

Catatan: Masjid ini terakhir kami menyambanginya pada akhir Oktober silam saat waktu ashar tiba.

Musholah Carefour, Lebak Bulus, Jakarta Selatan

December 10, 2010

Selain mudah ditemui, keberadaan musholah di pusat perbelanjaan berlabel Carefour ini cukup nyaman. Meski ukurannya tak begitu luas, namun kondisinya tetap bersih dan terawat. Maklum, keberadaan musholah ini, selain menyatu dengan rest area di lantai dua, posisi ruangan pun tampak dari luar.

Ruang sholat sendiri harus berbagi antara jamaah pria yang ada di bagian depan dan bagian belakangnya yang menyatu dengan area wudhu digunakan untuk ruang sholat jamaah wanita. Tak heran, bila jamaah pria musti ekstra hati-hati saat menuju ruang sholat usai berwudhu. Ruang sholat jamaah pria hanya muat sekira tiga shaf itu pun harus berbagi ruang dengan imam jika berjamaah. Disamping posisi menghadap kiblat yang menyerong membuat ruangan yang hanya ukuran sekira 3×3 itu terasa sesak. Pun dengan ruang sholat jamaah wanita yang dibatasi dengan pembatas papan setengah badan tampak hanya mampu memuat hingga tiga shaf dengan lima orang setiap shafnya.

Musholah berlantai granit warna krem senada dengan granit yang menempel di dinding itu dihampari karpet bermotif sajadah berwarna hijau. Meski tampak sesak, jika waktu sholat tiba, namun untuk menghilangkan kepenatan dan hawa panas, musholah ini teraliri hembusan pendingin udara secara merata dari setiap lubang yang ada di plafon/eternit. Sehingga, jamaah tetap merasakan kesejukan ruangan, sama halnya dengan pengunjung lain yang tengah berbelanja. Bahkan boleh jadi, di ruangan ini hawa sejuknya lebih dingin dibanding ruangan lainnya.

Untuk memberi kenyamanan dan keamanan, pengelola menyediakan kursi tunggu serta loker swalayan. Meski pengunjung jamaah tetap harus berbagi dengan pengunjung wanita, karena akses masuk ke musholah ini pun hanya satu pintu. Di bagian depan, musholah ini terdapat rest room alias toilet. Sehingga sedikit membantu bagi jamaah wanita khususnya yang berjilbab memudahkan saat mengambil wudhu.

Nah, bila tengah berbelanja atau sekedar berkunjung windows shoping di pusat perbelanjaan Carefour yang ada di kawasan Lebak Bulus, tak usah ragu-ragu jika waktu sholat tiba untuk melangkahkan kaki ke lantai dua di sisi utara dekat dengan pusat informasi di sudut kanan itulah terdapat musholah dan rest room yang berdampingan. Selain di lantai dua ini, pengelola pun menyediakan musholah di area parkiran mobil basement, tepatnya di sisi barat. Semoga sedikit membantu.

Catatan: musholah ini terakhir kami sambangi pada akhir bulan Oktober silam

Musholah At-Tabayyun, C&R, Kavling DKI, Jakarta

December 9, 2010

Dalam sebuah kesempatan kunjungan ke kantor rumah produksi sebuah program infotainmen ternama, Cek & Ricek di kawasan Jakarta Barat pada pertengahan Oktober silam, penulis dibuat takjub dengan keberadaan musholahnya. Ya, kantor tersebut memanfaatkan luasnya garasi yang ada di lantai dasar untuk disulap menjadi ruang sholat yang cukup memadai. Selain itu, sepertinya ruang sholat tersebut digunakan pula untuk pelaksanaan sholat jumat. Hal ini tampak dari adanya podium serta gulungan karpet yang teronggok di sudut ruangan.

Adalah At-Tabayyun, nama musholah tersebut. Seakan ingin menasbihkan dengan apa yang mereka lakukan dalam setiap pekerjaannya mendapatkan ’gosip’ seputar kalangan selebriti negeri ini. Tabayyun yang dalam bahasa jurnalistiknya berarti konfirmasi, cek dan ricek atau cover both side. Meski keberadaan program infotainmen sebagai produk jurnalistik sendiri masih kontroversi. Tidaklah penting membahasnya. Yang jelas, disini kami hanya mengamati keberadaan musholahnya saja.

Layaknya sebuah garasi, tentu di dalamnya berisi kendaraan. Dalam kesempatan waktu itu, beberapa kendaraan terparkir sehingga sedikit menutupi keberadaan musholah tersebut. Di musholah itu terhampar karpet bermotif sajadah warna hijau diatas terpal biru sebagai alasnya. Sementara di bagian dinding kiblatnya terpampang billboard bergambar masjid kubah emas yang dihiasi dengan kaligrafi lafadz Allah dan Muhammad serta kalimat tauhid. Sedangkan tulisan Attabayyun sendiri tertera tepat di atas kubah emas. Tentu saja, spaduk besar ini merupakan penanda bahwa lokasi tersebut digunakan sebagai ruang sholat.

Untuk area wudhu, pengelola kantor menyediakannya tepat di sisi kiri tak jauh dari ruang sholat –yang terbuka— tersebut. Pengelola pun menyediakan beberapa terompa untuk memudahkan bagi para karyawan dan tamu saat hendak berwudhu. Meski musholah ini menyatu dengan garasi, namun kesan panas baik akibat dari mesin dan asap kendaraan nyaris tak dirasakan. Ya, untuk meminimalisir hawa panas tersebut, sengaja pintu gerbang menuju garasi dibiarkan terbuka. Sehingga semilir angin pun begitu terasa. Selain itu pengelola pun melengkapinya dengan kipas angin.

Jadi, bagi yang tengah bertandang di kantor redaksi infotainmen Cek & Ricek yang ada di kawasan kavling DKI, Jakarta Barat, ketika waktu sholat tiba, tak usah ragu-ragu untuk segera menuju parkiran dalam lantai dasar. Disanalah musholah Attabayyun berada yang setiap waktunya kerap melantunkan seruan untuk sholat. Sesuai pengalaman penulis saat berada di lokasi, pada saat waktu dhuhur tiba, kumandang adzan pun dilantunkan dari musholah ini. Semoga sedikit membantu.

Catatan: musholah ini terakhir kami sambangi pada pertengahan Oktober silam.